Selasa, 20 November 2012

Bersabarlah dan Teruslah Berjihad!


Malam ini begitu dingin, namun tentu tak sedingin dan sekaku suasana di Palestine,
Ya Rabbi, Kuatkanlah hati saudara-saudaraku disana,
Kukuhkanlah imannya... Pertahankanlah Akidahnya,
Berilah mereka kesabaran dan keikhlasan mengahadapi segala bentuk ancaman bani israel...
Teguhkan para pejuang-Mu ya Allah..
Allahu Akbar.. Allahu Akbar!!!
Turunkan cahaya dan keberkahan disetiap langkah jihad hambaMu..
Di belahan dunia yang jauh ini, tak akan menjadi penghalang bagi tiap doa-doa yang dikumandangkan demi kemenangan Palestine..
Hukumlah orang-orang yang membantu kekejian yang dilakukan Israel...!!!
Laknatlah mereka ya Allah...
Selamatkan saudara-saudaraku..
Berjuanglah Palestine...!!!
Majulah Hamas, Allah akan senantiasa bersama kalian..
Memberikan kekuatan dan keberanian..
Perjuangkanlah kebenaran,
Wahai saudara seimanku diseluruuh dunia, janganlah pernah kalian berpangku tangan! Masa bodo! ini tentang agama Allah, tentang penderitaan saudara-saudara kita...
Panjatkanlah doa kalian... #Pray For Palestine.. Allahu Akbar!!!

Rabu, 14 November 2012

Heart 2 Heart

-->

Sebuah kisah dalam elegi waktu yang singkat, harmonic teratur yang mengisahkan tentang Teman, Keluarga, dan Cinta...
Tentang arti sebuah pertemanan yang tulus tanpa pamrih,
Tentang sebuah keluarga yang ingin bahagia,
Tentang pengorbanan yang indah demi sang “CINTA”
“Kalau kita jodoh, kita pasti ketemu lagi”
      Sungguh benar birai ungkapaan... Bukankah takdir telah jelas menuliskan goresan-goresan hidup sang insan?  Tak perlu ada kesengajaan dalam tiap kebetulan, tak perlu ada celah yang harus diisi, Tak seperti beberapa kisah cinta yang dipaksakan. Saat bahagia begitu miris terdengar...
      Demikian pula tercetus sebuah apresiasi delam benak ini. Memang indah kisah cinta diantara Indah dan Pandu, memanglah syahdu pengorbanan berlambang Cinta...
Pada rute dalam alur cerita, tertangkaplah bayang mengenai harapan yang muncul ditengah keputusasaan, tentang impian yang bertahan diantara keraguan, dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.
      Tapi jelaslah tergambar pula , bahwa cinta yang mereka janjikan hanyalah “Fana”  dunia... Tak ada yang abadi.. Bahkan terkesan terlalu dipaksakan. Bukan hal yang baik untuk ditiru oleh muda-mudi yang menyimpan perasaan terhadap lawan jenisnya. Bukan tentang keromantisan cerita yang diidamkan para kaum wanita, cinta yang indah yang berawal dari pandangan pertama di danau kenangan. Bukan pula tentang dua insan yang merajut kasih dalam dunia mereka berdua. Rengguklah madu cerita dan singkirkanlah pahit cerita yang dapat menjerumuskan.      
      Bahwa teman terbaik adalah saat ia mampu meredam sakitmu dan menuntunmu bahwa hidup tak akan berakhir. Masih ada Tuhan dan nikmatnya yang tak terhingga.
      Bahwa orang tua yang baik adalah mereka yang memberikan apa yang anak butuhkan bukan inginkan. Dan jika kau mencintai seseorang, maka jagalah dia. Jangan rusak bentengnya dan bentengmu. Jika dia tulang rusukmu maka yakinlah sampai kapanpun tak akan pernah tertukar. Bersabarlah...
 *Apresiasi Film-Smanesaa-XI Exact 3*     


Selasa, 13 November 2012

Quotes Sunshine Becomes You


"Aku takut pada perasaan yang kau timbulkan dalam diriku" -Mia Clark

***

"Kalau kau tidak mau berbicara denganku, tidak apa-apa. Kalau kau tidak mau aku berbicara denganmu, itu juga tidak apa-apa. Tapi tolong jangan menghindariku. Biarkan aku disini bersamamu... " -Alex Hirano

***

".. Sebenarnya aku tidak bermaksud menghindarimu, aku hanya berusaha menghindari perasaan ku sendiri dengan menghindarimu" -Mia Clark

***

"Aku sangat ahli menghindari perasaanku. Kau tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya." -Mia Clark

***

"Kau mungkin tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu.." -Alex Hirano

***

Mia: "Kau memang menyedihkan. Apa jadinya kau tanpa aku?"
Alex: "Entahlah... aku tak  bisa membayangkannya"

***

".. Kadang-kadang kupikir dia menyukaiku. Kau tahu? ada saatnya ketika dia menatapku, tersenyum padaku, atau ketika dia berbicara padaku, kupikir dia menyukaiku. Tapi kemudian, aku sadar bahwa dia juga menatap, dan berbicara kepada orang lain seperti itu.." -Ray Hirano

#Tugas Bahasa Indonesia:)

Jumat, 09 November 2012

Menjual waktu dengan pahala

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya t...
elah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)

Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.
Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita
Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.
Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok.

Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.

Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.
Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)

Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.

Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)
Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang menghilang
Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan. Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk dengan video game. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.

Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan 3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya cuma habis buat tidur.
Jika orang itu menghabiskan empat jam buat nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol, curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.

Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah? Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit, ia beribadah selama delapan puluh menit per hari. Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau, 1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari lama nonton teve.

Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir

Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia. Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu sedikit.

Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah pahala!”

#Sumber : http://www,dakwatuna,com/2008/menjual-waktu-dengan-pahala/

Kisah Nyata Yang Mengharukan



Wajah saudariku memucat, tubuhnya mengering. Meskipun begitu, ia tetap selalu membaca al-Qur’an. Jika engkau mencarinya, ia akan senantiasa rukuk, sujud, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Begitulah yang selalu ia lakukan, baik di pagi hari, sore, bahkan tengah malam tanpa jemu. Sementara itu, aku lebih suka membaca majalah sastra dan buku cerita, atau menonton video. Kewajibanku terbengkalai, bahkan shalatku berantakan. Kendati video sudah kumatikan, tapi aku masih asyik menonton film selama tiga jam berturut-­turut. Nah, kini adzan berkumandang di mushalla dekat rumahku. Aku kembali ke tempat tidur. Suara saudariku terdengar memanggilku dari mushalla.

“Ya, apa yang engkau inginkan, Naura?” kataku.

Dengan suara datar saudariku bilang, “Jangan dulu tidur sebelum shalat subuh.”

Oh, satu jam lagi baru shalat subuh, karena yang kudengar kali ini baru adzan pertama. Dengan suara yang lembut -begitulah kebiasaan saudariku, bahkan sebelum menderita penyakit ganas yang jatuh terbaring di ranjang- saudariku memanggilku, “Kemarilah, Hanna, duduklah di dekatku.”

Aku tidak kuasa menolak permintaannya. Engkau pun juga pasti begitu. Jika merasakan ketulusan dan kejernihannya, engkau akan tunduk memenuhi ke­inginannya.

“Ada apa, Naura?” kataku.

“Duduklah!”

“Ini aku sudah duduk, ada apa?” desakku.

Dengan suara yang merdu dan welas asih saudariku membacakan ayat Al-Qur’an,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu” (Ali ‘Imran: 185).

Sejenak ia terdiam. Setelah itu, ia bertanya kepadaku, “Bukankah engkau percaya pada kematian?”

“Ya, aku percaya,” jawabku.

“Bukankah engkau percaya kalau setiap amalmu kelak akan dihisab, baik yang kecil maupun yang besar?”

“Ya, tetapi Allah Maha Penyayang dan perjalanan masih panjang,” jawabku.

“Saudariku, apakah engkau tidak khawatir kematian datang secara tiba-tiba? Lihatlah Hindun lebih muda darimu, ia meninggal dunia karena kecelakaan. Lihatlah si ini dan ini. Kematian tidak mengenal usia.”

Dengan suara ketakutan, karena suasana gelap di mushalla, aku berkata, “Aku sudah takut pada kegelapan. Sekarang engkau menakut-nakutiku dengan kematian. Kalau begitu, bagaimana aku bisa tidur? Kukira engkau ingin memberitahuku bisa ikut pergi bersama kami di liburan ini.”

Tiba-tiba suara saudariku kertak-kertuk di teng­gorokan. Hatiku begidik. Ia berkata, “Mungkin tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang berbeda. Bisa jadi begitu, Hanna. Usia itu di tangan Allah.”

Setelah berkata demikian, saudariku menangis. Aku mulai memikirkan penyakit ganas yang ia derita. Diam-diam dokter memberi tahu ayahku bahwa karena penyakit yang diderita, usia saudariku tidak lama lagi. Tetapi, siapa yang membocorkan hal itu pada saudariku? Ataukah dig sedang merasakan hal itu?

“Apa yang engkau pikirkan?” kata saudariku membuyarkan pikiranku. “Apakah engkau kira aku berkata begitu karena aku sakit? Tidak. Bisa jadi aku hidup lebih lama daripada orang yang sehat. Dan engkau sendiri sampai kapan akan hidup? Ketahuilah, Hanna, hidup itu hanya sementara. Kemudian apa? Tiap-tiap kita akan pergi meninggalkan dunia ini; ke surga atau neraka. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

”Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung” (Al Ilmran: 185).’”

“Engkau akan baik-baik saja,” kataku seraya berlari meninggalkannya. Perkataan saudariku terngiang-ngiang di telingaku.

“Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepadamu. Jangan lupa shalat yang delapan di pagi hari.”

Tidak lama setelah itu, aku mendengar pintu kamarku diketuk orang. Jelas ini bukan waktunya aku bangun tidur. Kudengar isak tangisan dan gemuruh suara banyak orang. Apa yang terjadi? Oh, ternyata keadaan Naura mem­buruk, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ternyata tahun ini tidak jadi berangkat jalan-jalan. Tahun ini aku ditakdirkan untuk tinggal di rumah. Jam satu siang, ayah datang dari rumah sakit.

“Engkau bisa menjenguknya sekarang, ayo cepat,” kata ayah kepadaku.

Menurut ibu, suara ayah mengisyaratkan kegun­dahan. Suaranya berubah. Mantel telah di tangan, lalu di mana supir? Kami pun segera meluncur ke rumah sakit. Jalan yang kami telusuri bersama supir untuk jalan-jalan biasanya tampak pendek. Tetapi, hari ini tampak panjang, bahkan sangat panjang. Di manakah gerangan keru­munan orang yang membuatku menoleh kanan-kiri? Di sampingku ibuku berdoa untuk saudariku.

“Dia anak yang saleh dan taat. Aku belum pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu,” kata ibuku lirih.

Memasuki pintu luar rumah sakit, kami menyaksikan pemandangan banyak pasien. Ada pasien yang mengerang- erang, ada korban kecelakaan, dan ada pula yang matanya cekung. Engkau barangkali tidak bisa membedakan, apakah mereka penghuni dunia atau akhirat. Sebuah pemandangan aneh yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Segera kami menelusuri anak tangga. Ternyata, saudariku dirawat di ruang ICU.

Seorang perawat menenangkan ibuku. Ia bilang keadaan saudariku membaik setelah sempat pingsan. Di rumah sakit itu tidak diperkenankan masuk ke ruang perawatan pasien lebih dari satu orang, apalagi ini ruang ICU. Di tengah kerumunan para dokter, melalui jendela kecil kulihat mata saudariku, Naura, melihatku. Adapun ibuku berdiri di sisinya. Dua menit kemudian, ibuku keluar karena tidak sanggup membendung air matanya. Mereka mengizinkanku masuk, asal tidak terlalu banyak berbicara dengan pasien. Dua menit sudah cukup.

“Apa kabar, Naura?” sapaku.

“Sore kemarin aku baik-baik saja.”

“Apa yang terjadi padamu?

Setelah memagang tanganku, saudariku bilang, “Sekarang, alhamdulillah aku baik-baik saja.”

“Alhamdulillah, tapi mengapa tanganmu dingin?” kataku.

Aku duduk di pinggiran dipan sembari memegangi betis Naura.

“Apakah sebaiknya jauhkan yang kiri dari yang kanan, kasihan jika engkau sampai merasa terhimpit,” kataku.

“Tidak, aku hanya memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. ” (Al-Qiyamah: 29-30)

Hanna, doakanlah aku, karena mungkin sebentar lagi aku akan mengawali hari akhiratku. Perjalananku begitu jauh, tetapi bekal yang kubawa teramat sedikit.”

Mendengar perkataan saudariku, air mataku tumpah tak terasa. Aku menangis, tak peduli sedang berada di mana. Aku terus menangis. Ayah kelihatannya lebih mengkhawatirkanku daripada Naura. Memang, mereka tidak terbiasa melihatku menangis dan menyendiri di kamar seiring terbenamnya mentari di hari berkabut itu. Rumahku hening mencekam.

Anak perempuan bibiku masuk. Peristiwa begitu cepat terjadi. Orang-orang pun berdatangan. Suara menggaduh. Satu yang kutahu; Naura telah tiada. Naura meninggal dunia. Aku hampir tidak bisa membedakan siapa saja yang datang, juga tidak tahu apa yang mereka perbincangkan. Ya Allah, di manakah daku? Apa yang tengah terjadi? Aku tak berdaya, bahkan untuk menangis sekalipun. Beberapa saat kemudian, mereka memberitahuku bahwa ayah membawaku untuk mengucapkan perpisahan pada saudariku. Selain itu, mereka bilang aku menciumnya. Tidak ada yang kuingat selain satu hal, yaitu ketika aku melihatnya pucat pasi di ranjang kematian sempat membacakan ayat Al-Qur’an, ‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).’ Aku mulai menyadari sebuah hakikat;

‘Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihaIau.’ (AI-Qiyamah: 29-30)

Tanpa sadar, malam itu aku menengok mushalla saudariku. Saat itu aku teringat dengan siapa aku berbagi kasih sayang ibu. Aku terkenang pada orang yang turut menanggung kesedihanku. Aku teringat pada sosok yang turut menghalau dukaku. Selain itu, aku juga teringat pada orang yang memohonkan hidayah Tuhan, dan yang menumpahkan air mata sepanjang malam saat meng­ajakku bicara tentang kematian dan hari penghitungan amal..

Ini malam pertama ia berada dalam kuburnya. Ya Al­lah, kasihanilah ia, dan sinarilah kuburnya. Ini mushafnya, ini sajadahnya, ini … dan ini … Bahkan, ini gaun bermotif bunga yang pernah diceritakan kepadaku, ‘Gaun ini akan kusimpan buat hari pernikahanku.’ Jika teringat pada semua itu, aku tak kuasa membendung air mata pe­nyesalan pada hari-hariku yang sia-sia. Aku terus menangis dan berdoa semoga Allah mengasihiku, menerima taubatku, dan memaafkanku. Aku juga berdoa semoga Allah meneguhkannya di kuburnya seperti yang sering ia mohon pada-Nya.

Entah mengapa, aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, bagaimana jika yang meninggal dunia itu aku? Ke mana arah perjalananku? Karena rasa takut yang menyelimutiku, aku sengaja tidak mencari jawaban. Aku hanya menangis sedu sedan. Allahu Akbar!

Suara adzan subuh berkumandang, kali ini terasa sangat menyenangkan. Aku merasa damai dan tentram sembari mengulangi bacaan adzan. Kulipat bajuku, lalu berdiri melaksanakan shalat subuh. Aku shalat seperti or­ang yang akan segera mati, sebagaimana shalat yang dilakukan saudariku sebelumnya. Jika pagi aku tidak menunggu petang, dan jika petang aku tidak menunggu pagi. [Az-Zaman al-Qadim, hal.4]

Sumber: Kisah Orang Shaleh Dalam Mendidik Anak, Syaikh Ibrahim Mahmud, Pustaka al Kautsar

Artikel: www,kisahislam,net

Wanita dan Pohon Semalu



Pokok Semalu sejenis tumbuhan liar yang mengecut apabila disentuh. Kita biasa memanggilnya sebagai pokok semalu.Bagi masyarakat sebelah utara,ia lebih dikenali sebagai duri keman.

MimosaPudica

Pokok yang nama saintifiknya mimosa pudica ini amat mudah dikenali Tandanya ialah apabila disentuh,ia akan mengecut.

Ia punya perkaitan dengan diri wanita:

...
Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w berjalan-jalan bersama puteri baginda, Saidatina Fatimah r.a.
Setibanya mereka berdua di bawah sebatang pohon tamar, Fatimah terpijak pohon semalu, kakinya berdarah lalu mengadu kesakitan. Fatimah mengatakan kepada bapanya apalah gunanya pohon semalu itu berada di situ dengan nada yang sedikit marah.

Rasulullah dengan tenang berkata kepada puteri kesayangannya itu bahawasanya pohon semalu itu amat berkait rapat dengan wanita. Fatimah terkejut. Rasulullah menyambung kata-katanya lagi. Para wanita hendaklah mengambil pengajaran daripada pohon semalu ini dari 4 aspek.

Pertama, pohon semalu akan kuncup apabila disentuh. Ini boleh diibaratkan bahawa wanita perlu mempunyai perasaan malu (pada tempatnya).

Kedua, semalu mempunyai duri yang tajam untuk mempertahankan dirinya.Oleh itu, wanita perlu tahu mempertahankan diri dan maruah sebagai seorang wanita muslim.

Ketiga, semalu juga mempunyai akar tunjang yang sangat kuat dan mencengkam bumi. Ini bermakna wanita solehah hendaklah mempunyai keterikatan yang sangat kuat dengan Allah Rabbul Alamin.

Dan akhir sekali, semalu akan kuncup dengan sendirinya apabila senja menjelang. Oleh itu, para wanita sekalian, kembalilah ke rumahmu apabila waktu semakin senja. Ambillah pengajaran dari semalu walau pun ia hanya sepohon tumbuhan yang kecil.

#FP ۞ Pesona Wanita Muslimah ۞ ada banyak kata HIKMAH, RENUNGAN dan MOTIVASI.

“Catatan DE JA VU Dari Lembaran Hidupku Yang Lampau”


Rangkaian-demi-rangkaian kejadian dari catatan hidupku yang lampau berkelebat kembali. Lelah hati menyibakkan carikan catatan-catatan itu dari buku hidupku, merobeknya, kemudian membakaranya. Namun berang sudah, ingatan itu bagaikan de ja vu yang selalu ada didalam setiap memori otakku. Aku sadar, jikalau aku hanyalah seongok jiwa yang lemah yang dengan daya dan upaya akan tetap sama hasilnya, bahwasahnya masa lalu akan tetap menjadi bagian dari diri ini.
“Nak Reyka, ada kiriman surat.” Kata bi Inah pembatu rumah yang aku sayangi.
“Dari siapa bi?” Tanyaku. Namun aku mencurigai geliat tubuh bibiku ini. Pasti ada sesuatu.
“Eehm.. Ini surat dari Mas Rehan.” Katanya berhati-hati.
Masya Allah, Rehan? Aku tahu, sesuatu akan terjadi sebentar lagi, aku benci untuk mengatakannya. “Rehan? Rehan kakaknya Rifkah?” kataku mencoba meminta keyakinan dari pendengaranku.
Bi Inah kali ini memandangku tak tega, dengan perlahan-lahan ia memberikan sebuah kotak sepatu dari dekapannya padaku. “Surat itu ada di dalam kotak ini, dan sebenarnya bukan dari pribadi Mas Rehan, tapi Mas Rehan mau menyampaikan amanah dari seseorang yang seharusnya sudah nak Reyka kenal. Tolong dibacalah.” Bi Inah kemudian bergegas pergi dari hadapaku setelah menatapku memberikan keyakinan.
Aku sedikit terpaku. Mencoba mempercayai apa yang tak akan kupercaya. Aku berlari menapaki tangga menuju kamarku. Cepat-cepat ku tutup pintu kamarku. Menaruh kotak itu di atas ranjangku, dan membukanya...
Tanganku bergetar memegang secarik kertas, yang tulisannya sedikit pudar karena dimakan waktu, terselip diantara catatan-catatan polos dari anak-anak SMA lalu. Diantara coretan-coretan iseng anak-anak yang bosan mendengarkan penjelasan gurunya. Tulisan ini, aku sangat mengenali gaya goresan tinta ini. Goresan tintanya sangatlah lembut dan halus namun tajam ketika terdapat tanjakan-turunan pada huruf yang harus ditarik keatas ataukah diulur kebawah.
Aku mendesah berat, mencoba menutup mata dan membukanya perlahan, berharap yang kulihat barusan adalah salah satu fantasi ketakutanku. Baiklah, aku bodoh! Meski mata tak mepercayai, tetapi tangan telah memegang apa yang tak ingin ku pegang. Kupaksakan mengangkat kelopak mata. Yah! Jelas sudah, bahkan terlalu jelas untuk ukuran judul yang cukup besar, memenuhi dua baris pertama dari barisan kertas itu. Bertuliskan. “Dariku adindamu tersayang, RIFKAH.”
Luruhlah sudah semua ketidak percayaanku. Oh Tuhan.. Inikah catatan dari masa lalu yang akan menjelaskan kepadaku mengapa sang separuh hati pergi? Mengapa sang sahabat dunia dan yang ku yakini hingga di akhirat pergi tanpa ada kabar? Dia sahabatku sedari kecil namun setelah dewasa mengkhianatiku?
Benci diri ini untuk membaca namamu. Benci hati ini untuk mengetahui kabarmu. Namun sekarang, apalah daya dan guna, jika seandainya waktu mencoba menjelaskan kisah yang hilang, kisah yang tak ku ketahui akhirnya.
Aku teringat akan senyummu, ketika pertama kali sang waktu mengenalkanmu kepadaku, berjabat tangan, dan engkau tak segan menjahiliku terlebih dahulu. Aku teringat ketika kita harus menyelesaikan tugas bersama-sama, engkau yang selalu menyemangatiku dan menasehatiku untuk tidak menjadi anak yang cengeng. “Anak cewek tuh jangan mau jadi lemah!” katamu dengan polos.
 Aku teringat ketika engkau pertama kalinya menangis di hadapanku karena teman-teman yang lain mengejekmu menyukai seseorang, padahal awalnya engkaulah yang selalu menawarkan pundakmu untuk menopang kesedihan diriku. “hiiks.. Awas lo semua, h.. hiiks.. Aku bakalan gigitin, hh.. hiks.. tangan kalian kalau kalian masih, hiiks.. ngejek aku sama Doni si ingus!” Acammu dengan sesegukkan.
Aku teringat ketika kita harus bersama-sama menghadapi kemunafikkan dunia disaat kita masih mencari jati diri. Hingga saat ini aku masih mengingat disaat dirimu, yang tak ku ketahui alasannya, pergi meninggalkanku disaat engkau yang selalu kubutuhkan. “Udah! Kamu nggak usah ngikutin aku lagi! Nggak perlu lagi kamu datang sama aku cuman buat nangis! Aku nggak butuh sahabat cengeng seperti kamu! Pergi sana!” Bentakmu kepadaku. “Tapi Kah..” tangisku meledak. “Pergi nggak!? Aku sudah bilang, aku nggak butuh sahabat macam kamu, yang kerjaannya cuman nangis mulu! Pergi...”
Sakit rasanya harus mengingat lagi. Sakit rasanya harus melihat masa lalu lagi. Aku takut. Aku benci. Tetapi disatu sisi aku merindukanmu sahabatku.
Tatapanku beralih lagi dengan waktu kini. Suratmu, yang mengantarkanku pada De Ja Vu mimpi burukku. Mengingatmu kembali. Ku kerlingkan mata membaca tiap kata dan mencerna tiap bait surat darimu. Oh, tidak. Bayangan itu berkelebat kembali. Miris.
Kali ini nafasku mulai bergetar, pandanganku membaca kalang-kabut. Oh, tidak. Inikah kenyataannya? Oh Tuhan, aku benci terlambat mengetahui kebenaran. Seketika itu, genangan air memenuhi kelopak mataku.
...
Ku usap wajahku ketika aku telah menyelesaikan munajatku. Do’a yang kukirimkan pada-Nya teruntuk Rifkah. Aku sudah menerima, aku sudah mengikhlaskan Tuhan mengambilnya. Biarkan bumi memeluknya dalam dekapan erat, melelapkannya dari sakitnya. Mungkin Tuhan benar, mengambil Rifkah dari hidupku yang membuatku mejadi Reyka yang tegar, bukan Reyka yang dulu selalu bersama Rifkah. Aku tersenyum, dan menoleh kearah pundak kananku, tante Ranti, bunda tiri dari Rifkah. Beliau memeluk pundakku, hangat. Tante Ranti merangkulku dan mengajakku untuk pulang. Disana, disamping mobil Honda Jazz merah, mas Rehan, kakak Rifkah telah menunggu kami..
Selamat tinggal sahabatku, semoga engkau tetap menjagaku dari sana, di sisi-Nya.

Love 17 1280X1024 Love Friendship Wallpaper.jpgDariku; Adindamu tersayang, RIFKAH.
          Mm.. Hai Rey halo? Apakabar Rey? Semoga kamu selalu dalam perlindungan-Nya, dan semoga kamu bisa melupakan si pengkhianat ini :) Ya, mungkin itulah panggilan yang paling tepat untuk kamu sematkan padaku. PENGKHIANAT!
          Rey.. Kau pasti tahu, seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu yang menyebabkanku menjadi sosok yang keras dan tegar. Aku tahu, aku tahu sepenuhnya kamu berbeda denganku. Aku sungguh iri padamu, yang selalu mendapat kasih sayang dari seorang ibu, hingga aku bisa mendapatkan belaian dari bunda baruku, tante Ranti. Kamu dan tante Ranti adalah kado terindah yang pernah Tuhan kirimkan untukku, dan aku kini beruntung mendapatkannya, dan hanya aku yang bisa.
          Rey, maafkan aku karna pergi dari hidupmu? Rey, aku banyak berpikir akhir-akhir ini, tentang pertanyaan ini, banyak merenung. Akhirnya aku tahu, Tuhan amatlah baik memberikanku kalian untuk disisa hidupku.
          Ya, aku pikir, itulah jawabannya Rey. Aku tidak tahu kapan, tapi ingatkah kamu ketika aku biasa merasakan sakit perut, namun dokter mendiagnosis bahwa itu penyakit maag semata? Namun bunda memutuskan untuk meng-USG bagian perutku, dan inilah takdirku, takdir yang telah dituliskan Tuhan untukku lagi, aku memelihara kanker stadium 3 di lambungku.
          Aku tidak kaget dengan ini, karna aku tahu dunia kedokteran sudah canggih, yang membuatku shock berat ketika dokter memvonisku hanya bisa bertahan dalam 3 bulan. Aku mulai stres, keadaanku kacau, aku tidak bisa mengendalikan emosiku, selalu bunda aku bentak. Namun aku mulai sadar, aku akan meninggalkanmu, bunda, ayah, dan mas Rehan. Maka aku memutuskan, untuk mencampakkanmu sebelum kamu melihatku dalam keadaan tragis.
          Rey, besok aku akan menjalani operasi, dan ketika kamu menerima suratku berarti aku sudah tidak ada lagi, itu pesanku untuk mas Rehan. Semoga surat ini bisa menjelaskan semuanya walau singkat. Maaf yah kalau pendek, aku tidak kuat untuk menulis banyak. Hehehe..
Salam hangat untukmu, Rifkah

#Sebuah Cerpen dari Al Putri Yana Wulandari:)

Kamis, 01 November 2012

Berbagi Cerita:):)


Bismillahirahmanirrahim...
Kaifa haluki, ukhti ???
Sekedar berbagi, ana dapat sebuah cerita tentang pengalaman yang Insya Allah, semoga dapat dipetik hikmahnya:) Amin.

*Silahkan disimak

Dedaunan mulai berguguran. Sepi jalan tak dihiraukannya, ialah seorang gadis yang sedang berjalan gontai. Derap sepatunya terdengar begitu kakunya. Terik matahari yang menyilaukan, panasnya memancarkan hawa yang tak biasanya. Mungkin akan turun hujan nanti. Gadis tadi masih terus berjalan,
Sepulang sekolah, ia ingin sejenak beristirahat di rumah temannya. ia putuskan untuk menunggu jemputan disana. Setelah sampai, tiba-tiba hujanpun turun.. Ia bahkan yakin, bahwa penjemputnya pasti tak akan datang.
Kemudian ia memilih untuk berjalan ditengah hujan dengan payung temannya tadi untuk mencari angkutan umum. Ia merasa yakin dengan pilihannya. Gadis itu mulai membayangkan lagi, pasti enak sekali berjalan ditengah hujan, apalagi... umm ditemani sebungkus coklat.
Baru saja ia melangkahkan kaki menuju jalan utama, hujan berhenti. Gadis itu terdiam. Ia tidak jadi menikmati hujan, namun dia masih bisa membeli sebungkus coklat. Ada dua toko coklat, yang satu di depan perempatan jalan dan jaraknya dekat dengan posisi sang gadis sekarang dan toko kedua agak jauh di bagian atas jalan. Si gadis memilih ke toko yang terdekat.
Saat tiba diperempatan jalan, muncullah angkutan umum. Gadis itu berpikir.. "Jika aku naik angkot itu, aku tidak bisa menikmati sebungkus coklat" akhirnya, gadis itu membiarkan angkutan tadi melewatinya.
saat sampai di toko terdekat, gadis itu berharap akan menemukan coklat. dan benar saja, ia menemukan coklat, tapi bukan coklat yang ia harapkan. Coklat ditempat itu terlalu besar dan mahal. gadis tadi mulai berpikir kembali, oh yaa.. ia masih punya harapan mendapatkan coklat di toko yang agak jauh. ia pun berjalan kesana.
Ia hampir saja tiba ditoko itu, sampai akhirnya gadis itu melihat ada angkot yang akan lewat kearahnya. Gadis itu begitu bahagia, kali ini bukan hanya coklat yang ia dapatkan tapi juga angkot sekaligus. ia pun langsung memasuki halaman toko sampai ia menemukan bahwa toko tersebut tutup. Langkahnya langsung terhenti.. Sekali lagi, pilihan mengecewakannya. akhirnya, ia berbalik badan dan menunggu angkot datang kearahnya.
Diatas angkot ia merenung, bukankah sama saja jika ia tadi memilih angkot pertama, pilihan pertama dan tidak menyia-nyiakannya. Sekarang ia juga sedang terduduk dengan tangan kosong dan tentu saja lelah...
Seandainya ia langsung menaiki angkot pertama saja, pastilah ia sudah sampai dirumah dan tidak kelelahan seperti sekarang.

*** Renungkanlah kisahnya Ukhti..
Terlalu banyak harapan yang ia gantungkan, terlalu banyak pilihan yang membingungkannya. Hingga ia dikecewakan oleh pilihannya sendiri. Sebuah kisah yang sederhana, tapi jika antum dapat melihat bagaimana pentingnya bijaksana dalam sebuah keputusan. Bagaimana menghargai kesempatan yang ada. Jika tak yakin jangan sia-siakan pilihan pertama yang datang padamu, belum tentu sesudahnya akan ada yang lebih baik. Dan belum tentu pilihan pertama tidak sebaik yang antum harapkan.
Sebagaimana,

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

“Subhanallah, betapa banyak kebaikan yang terdapat dalam hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu, sementara diri kita melalaikannya! Kenapa aku harus sedih dan menangisi kehidupan yang serba kekurangan di tengah keluarga kita atau pertemanan, yang ada hanya kebodohan, kemiskinan, kepayahan ketidakpedulian, dan penghinaan, sedangkan kita merasa memiliki beban yang berat”

Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat:)

Ada Apa Ukhti.. ?

Ku pikir, anti bisa bertahan..
Tak ada alasan ukhti,
Karena anti tahu hukumnya
Bukankah masih banyak pilihan??? Anti katakan hidup itu tentang memilih. Adakah anti melupakannya?

Apa yang anti pikirkan?
Tidakkah anti ingin pertahankan benteng itu?
Anti yang ingatkan, sekedar untuk menghindar,
Karena tak mungkin kita musnahkan.

Seperti seseorang yang tak berdaya,
Anti tahu... Itu tadi Ujian!
Baru kemarin anti kukuhkan,
Lupakah, ukhti??

Benar kata anti..
Kurasa hari ini langit memang tak berpihak padaku,
Mungkin saja, hanya sandiwara
Sandiwara langit dalam diam kecewaku,