Selasa, 26 Februari 2013

Story about rainbow



Penulis: Indira Yunita Alie
Rain+ Sun = Rainbow

                Auri adalah seorang siswi SMU kelas XI IPA 3 yang dikenal pendiam. Namun bukan berarti tidak ada yang mau berteman dengannya. Karena sebenarnya, dialah yang membuat jarak antara dirinya dan teman-temannya. Itulah yang menyebabkan ia lebih sering menyendiri tanpa teman. Hingga akhirnya, seorang anak baru bernama Dinda mulai memasuki kehidupannya yang dahulu biasa ia lakukan seorang diri. Dinda yang ceria, supel dan mudah bergaul sangat kontras dengan sifat yang ia miliki. Dinda yang menyukai matahari dan Auri yang menyukai hujan. Banyak perbedaan antara keduanya. Namun, seiring dengan waktu, Dinda kerap kali melakukan hal-hal yang membuatnya mengorbankan diri demi Auri. Padahal mereka baru kenalan, itu adalah sesuatu yang aneh yang baru kali ini didapatkan oleh Auri. Awalnya, Auri tidak ingin ambil pusing dengan segala macam tindakan Dinda. Karena menurut Auri, Pasti ada hal yang diinginkan oleh Dinda hingga Dinda bersikap sok baik seperti itu. Tetapi dugaan Auri ternyata salah. Dinda dengan tulus melakukan semua itu demi Auri, dan ia tidak menyangka dibalik keinginan Dinda itu hanyalah ia ingin menjadi teman baik Auri.
                Auri yang tidak terbiasa dengan seseorang yang peduli padanya dan kehadiran seorang teman membuatnya merasa senang bersama Dinda. Meski selama ini ia tidak pernah ingin mencoba untuk dekat dengan seseorang, namun kehadiran Dinda  membuatnya menyadari sesuatu, hal yang sama indahnya ketika hujan mulai reda.
                Auri tinggal bersama  kakak perempuannya. Dari kecil, mereka diasuh oleh seorang nenek. Mereka telah kehilangan orang tua sejak masih balita. Namun, 3 tahun yang lalu sang nenek meninggal dunia. Hal itu memberikan duka yang mendalam bagi Auri dan kakaknya. Nenek yang selama ini dicintainya telah pergi untuk selamanya, menyisakan beban hidup dipundak sang kakak. Meskipun keduanya telah terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras, kali ini mereka harus melakukannya tanpa kasih sayang dari sang nenek.
                Kakak Auri ingin terlepas dari kesedihan duka yang mendalam, ia ingin menjalani hidup dengan tegar dan mendidik adiknya untuk tetap kuat dan bekerja keras dalam hidup. Sang kakak bekerja disebuah restaurant asli Indonesia. Sebelum sang nenek meninggal, Kakak Auri hanya bekerja paruh waktu, namun kini ia mengambil jadwal kerja full time. Hingga, ia dan Auri jarang berkomunikasi seperti dulu. Kesibukan-kesibukan itu tidak lantas menghilangkan kecemasan dalam benak sang kakak. Ia telah menjelma menjadi seorang wanita yang realistis. Intinya, sang kakak ingin membiayai sekolah Auri sampai sarjana. Bukan hal muluk, karena sang kakak tidak ingin melihat adiknya menderita. Ia ingin adiknya bisa sukses dan bahagia kelak. Meski ia tidak sadar bahwa sikap kerasnya yang kini membawa Auri menjadi seorang gadis yang tertutup bahkan hampir tidak menikmati masa-masa remajanya.
                Sepulang sekolah, Auri harus bekerja paruh waktu disebuah toko kebutuhan pokok hingga jam 7 malam. Setelahnya, tentu ia akan pulang lebih awal dan membersihkan rumah. Kakak Auri akan pulang sebelum jam 10 malam. Membuat  ia sudah terbiasa menikmati makan malam sendirian. Sarapan pagi yang menjadi moment kebersamaan antara Auri dan Kakak, walau hanya diisi dengan percakapan ringan atau sekedar basa-basi. Semuanya terlalu sibuk untuk sebuah pikiran “Aku rindu akan kebersamaan kita”
                Hingga suatu hari, ketua osis memberi kabar bahwa ada program Beasiswa Pertukaran Pelajar ke Kanada yang diadakan oleh pemerintah. Program itu berjalan 5 tahun sekali. Indonesia akan mengirimkan 15 orang perwakilan untuk program itu. Setiap daerah mengirimkan 5 orang perwakilan yang akan diseleksi lagi di tingkat nasional. 15 perwakilan pelajar tersebut akan dikirim ke Kanada selama 4 tahun. Disana terdapat pula pelajar lain dari berbagai negera. Lulusan dari program ini akan langsung ditempatkan diantara 3 perusahaan besar di Indonesia. Dan itu adalah peluang bagi Auri untuk berhenti menyusahkan dan memberi beban pikiran pada kakaknya. Dinda pun tidak kalah bersemangat untuk mengikuti program ini.  Mereka akhirnya belajar dan berjuang bersama. Mereka mempersiapkan semua yang mereka butuhkan untuk bisa lolos dan mendapatkan Beasiswa tersebut. Auri belajar keras, sang kakak terus menggenjot dan memompa semangat Auri. Tapi kenyataannya, Auri malah merasa itu adalah sebuah tekanan dan keharusan untuk meraih Beasiswa tersebut. Hari H pun tiba, awal ujian pertama adalah seleksi berkas dan ujian tertulis. Dari 130 peserta hanya tersisa 20 peserta terbaik. Auri berada diperingkat ke 7 sedangkan Dinda diperingkat 14. Ketua osis mereka ternyata berada diperingkat 6. Teman-teman mereka memberi dukungan kepada ketiganya. Itu adalah suatu kebanggaan besar, karena ketiga perwakilan dari sekolah bisa lolos dibabak seleksi pertama dengan nilai yang  memuaskan.
                Babak seleksi kedua adalah test wawancara. Setiap malam kakak Auri mendesak Auri untuk berlatih dan memberikan yang terbaik saat test berlangsung. Namun pada test wawancara, Auri merasa kurang menampilkan pertunjukan kebudayaan yang diminta oleh dewan juri. Walaupun selebihnya, ia bisa memukau para juri dengan jawaban argumentasi yang sangat baik. Sedangkan ia tahu, pastilah Dinda akan menonjol dibidang kebudayaan. Dinda bisa menari dan menyanyi dan pernah mengikuti drama teater dengan baik. Hanyalah doa dan keajaiban yang dapat membuat Auri bisa lolos ketahap berikutnya.
                Sepulang dari test tersebut, Auri tidak langsung berangkat ke toko. Ia singgah disebuah mesjid. Disana ia melihat ada sekumpulan wanita dengan kerudung besar duduk membentuk lingkaran. Awalnya, Auri malu dan enggan untuk berlama-lama di mesjid itu, namun salah seorang dari wanita itu memanggil Auri. Ia pun ikut dalam lingkaran yang ternyata adalah sebuah majelis ilmu akhwat. Auri senang mendengarkan seorang yang disebut murobbiyah menjelaskan mengenai keutamaan seorang wanita. Auri ingat ketika pertama kali ia dan kakaknya menggunakan kerudung. Sang nenek yang mengatakan, jika seorang wanita sudah balig maka ia wajib untuk menutup auratnya. Bahagia rasanya, bisa berlama-lama dalam majelis itu.
                Tibalah hari pengumuman. Dari 50 orang hanya 5 yang akan lolos seleksi ke ibukota. Ketua panitia, menyebutkan nama-nama yang lolos melalui microphone. Dan ternyata Auri tidak lolos, melainkan nama Dinda dan ketua osinya berada diantara nama-nama yang disebutkan. Hancur sudah harapan Auri, ia harus bersiap menahan kekecewaan sang kakak. Ia harus besiap jika seandainya ia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah karena biaya. Ia tidak mampu menahan kekecewaannya saat ia memberi selamat pada Dinda, matanya berkaca-kaca. Dinda tahu kalau Auri sangat sedih, Dinda merasa tidak enak hati pada Auri. Ia tidak ingin, hanya gara-gara persoalan Beasiswa ini persahabatannya dengan Auri menjadi renggang. Baru kali ini, ia melihat mata Auri berkaca-kaca. Dinda sadar, selama ini Auri sudah berusaha lebih keras darinya. Dinda pun bicara pada ibunya tentang masalah ini. Dan Dinda akan melepaskan kesempatan emasnya demi Auri, Belum tentu juga pada saat seleksi nasional ia bisa lolos. Toh sang ibu setuju dengan pikiran bijak sang anak. Bahkan sang ibu bangga memiliki anak berhati mulia seperti Dinda.
                Auri pulang kerumah. Ia memberi tahu kakaknya, bahwa ia telah gagal. Saat itu, sang kakak marah besar pada Auri. Ia pikir, Auri tidak bersungguh-sungguh untuk meraih Beasiswa tersebut. Buktinya, Dinda saja bisa maju keseleksi selanjutnya. Hujan deras mewakili perasaannya. Ia mulai menulis lagi pada catatan merahnya. Sajak-sajak yang indah dari hatinya, tentang luka yang selama ini dipendamnya. Air matanya tumpah. Mengapa persoalan ini saja dapat memperumit hidupnya? Apakah ia harus mengorbankan segalanya demi sang kakak? Agar kakaknya berhenti berpikir mereka akan mati tanpa uang! Auri butuh kasih sayang.. Auri rindu senyum hangat sang kakak.. Auri rindu kebersamaan dan kehangatan yang selama ini didapatkannya dari nenek dan kakaknya.. Auri lelah jika terus memendam keinginannya itu!
                Keesokan harinya, Auri mendapat telepon dari pihak penerimaan beasiswa. Ia disuruh datang ditempat itu pukul 11 pagi. Untunglah hari itu adalah hari minggu. Auri pergi ketempat itu agak terlambat, ternyata Dinda juga ada disana beserta 5 orang peserta lain. Dinda terlihat kaget dengan kedatangan Auri. Mereka belum sempat berbasa-basi lalu muncullah seorang juri dan ketua panitia penyelenggara. Mereka menjelaskan kalau ternyata Dinda mengundurkan diri karena kedua orang tua  Dinda berubah pikiran dan tidak menyetujui keberangkatan Dinda ke ibukota untuk tahap seleksi selanjutnya. Karena itu, mereka akan mengambil salah seorang dari peserta cadangan dengan skor tertinggi untuk menggantikan Dinda. Dan orang itu adalah Auri. Ada rasa senang dalam hati Auri tapi ada juga rasa sedih saat mengetahui kalau orang itu lagi-lagi Dinda. Ia melihat Dinda yang terlihat lemas saat itu. Kemudian seorang juri memanggil Auri maju kedepan dan bertanya apakah ia siap atau tidak. Auri masih bungkam, ia memikirkan sang kakak dan Dinda. Sang kakak yang sudah merawatnya dan menjaganya, membiayainya hingga saat ini. Dan Dinda, seorang teman yang baru memasuki hidupnya, yang memberinya kebahagiaan saat bersamanya. Apa yang harus ia pilih? Siapa lagi yang harus ia kecewakan? Apakah sang kakak lagi? Tidak mungkin!
                Dinda berbicara dengan suara yang gemetar. “Auri tidak akan ikut program itu! Auri tidak mungkin berkhianat!” Suasana tegang menyelimuti tempat itu. Auri masih bungkam. “Aku melepaskan semua ini demi kamu Auri! Aku sengaja memberi alasan itu pada mereka, biar persahabatan kita tidak akan renggang karena persoalan ini. Aku tahu kamu juga ingin mendapatkan Beasiswa ini! Tapi tolong, kali ini mengertilah!”. Air mata sudah membanjiri kedua pelupuk mata Dinda. Seorang juri berkata, “Mohon maaf, jadi apakah Nona Auri bersedia menggantikan Nona Dinda?”. Dengan terbata-bata Dinda menimpali. “Tidak, bu. Silahkan cari orang lain saja. Kami berdua tidak bisa mengikuti program ini”. “Ini Impianku” Auri akhirnya berbicara dengan tegas dan lantang. Dinda tersentak. Dengan tangis yang tumpah ia berkata, “Kamu pikir ini bukan impianku juga?! Aku juga ingin Auri! tapi aku melepaskannya demi kamu”. Air mata Auri akhirnya tumpah juga, “Tolong, urus keberangkatan saya. Saya serius untuk mengikuti program ini.” Dinda tidak percaya akan apa yang didengarnya keluar dari bibir Auri. Dari seseorang yang dianggapnya teman.
“Aku salah.. ternyata selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai temanmu!” Dinda pergi dari tempat  itu dengan perasaan kecewa. Ia tidak berhenti menangis sampai ia tiba di rumahnya. Ibu Dinda khawatir karena dengan penampilan kacau sang anak langsung mengunci kamar.
                Dinda mengenang semua kisah yang pernah dilaluinya bersama Auri. Ternyata, Auri sama sekali tidak pernah menganggapnya Teman. Meski Dinda telah mencoba memberikan segalanya demi Auri. Semua yang dilakukannya sia-sia. Apa yang salah dengan sikap Dinda? Apa ada yang salah dengan keinginan Dinda untuk mendapatkan teman sejati? Ataukah memang Auri yang keterlaluan. Jahat sekali dia! Dinda tidak bisa melupakan kejadian hari ini. Sungguh, ia sangat sakit karena perlakuan seseorang yang telah dianggapnya sebagai teman.
                Dilain sisi, Perasaan Auri tidak lebih baik dari Dinda. Ia sedih karena ternyata dirinya membuat Dinda akan pergi dari hidupnya. Namun, ia juga tidak bahagia ketika ia bisa meraih kesempatan beasiswa demi kakaknya. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan putus asa menghampirinya .Disepanjang jalan ia memikirkan semua yang telah terjadi. Tentang sang kakak dan kebersamaan yang ia dapatkan dari seorang teman. Seseorang yang dengan tulus menyayanginya. Yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.
                Dirumah, kakak Auri tidak sengaja membaca sajak-sajak yang ditulis oleh Auri. Sajak-sajak tentang hujan dan tentang luka yang selama ini ia simpan. Tentang Auri ygang berusaha tegar seperti hujan dan seabrek kalimat tentang hujan yang memberikan banyak hal pada diri Auri. Begitu pula, sakit yang Auri rasakan karena sikap keras sang kakak. Sang kakak tidak habis pikir, seperti ini yang dialami adiknya? Ia tidak sadar telah membentuk karakter dingin sang adik. Ia bertekad untuk memperbaiki semuanya, memberikan kehangatan, kasih sayang dan tidak lagi memaksakan kehendaknya pada sang adik.
                Auri tiba di rumah. Ia kaget ketika mendapati kakaknya berada dirumah. Auri merasa aneh, tiba-tiba kakaknya bersikap sok baik padanya lagi. Ia sudah lelah dengan semua yang terjadi hari ini. “Kak.. berhentilah bersikap seperti ini padaku! Bukankah kakak sibuk mencari uang? Sudahlah, tidak usah pedulikan aku lagi”. Sang kakak tidak menyangka Auri akan berkata kasar seperti itu. Tapi sang kakak mencoba bersabar. “Kakak tahu kamu membutuhkan kasih sayang dan kakak melupakan itu. Kakak berjanji akan mengubah sikap kakak”.
Mendadak, Auri merasa emosinya naik saat kakaknya berkata “Melupakan Auri yang membutuhkan kasih sayang”. Auri membentak sang kakak. “Aku tidak perlu itu! Bukankah kakak yang telah membuat aku seperti ini?! Asal kakak tahu, Aku sudah mendapatkan kesempatan Beasiswa itu.”
“Benarkah?” Kakak Auri tidak percaya. “Ya dan karena itu aku kehilangan orang yang tulus menyanyangiku! Aku udah kehilangan semuanya kak! Kemana kakak saat aku terpuruk? Tidak ada kak! Dinda melepaskannya semua demi aku, dan karena kakak. Aku telah membuatnya marah besar padaku! Kak, aku tidak pernah memiliki seorang teman. Dan saat aku mendapatkan teman, kakak merampas kebahagiaanku!” Auri dan kakaknya Menangis.
“Maafkan kakak, Auri! Kakak tidak pernah bermaksud membuatmu seperti ini. Kakak menyanyangimu. Maafkan kakak..” sang kakak memeluknya. Pelukan yang selama ini dirindukannya.
Mereka menangis dalam hening malam dan derai hujan yang membekukan suasana. Setidaknya, malam itu telah meruntuhkan jarak yang tercipta antara Auri dan Kakaknya. Sedikit demi sedikit, kehangatan mulai mencairkan suasana.
Saat Auri kesekolah, ternyata Dinda tidak masuk. Ada yang hilang dari dirinya. Ia semakin merasa bersalah pada Dinda. 3 hari berlalu, dan tidak ada kabar pula dari Dinda. Sore hari, Auri mengikuti majelis ilmu lagi. Kebetulan sekali yang dibahas adalah persahabatan. Sepulang dirumah, Auri merenungi kembali jalinan persahabatannya dengan Dinda. Merenungi tiap kisah yang pernah mereka bingkai. Tentang ketulusan yang selama ini melindungi persahabatan mereka. Auri merindukannya. Merindukan tiap tawa Dinda. Keesokan harinya, Dinda masuk sekolah. Auri merasa lega tapi mereka tidak saling bicara. Dinda pindah ditempat duduk Wiwid. Tawa Dinda tidak pernah lagi Auri lihat. Ia tidak ingin kehilangan Dinda. Tidak ingin!
Disebuah taman mesjid. Auri duduk merenung. Berbait-bait sajak ia tuliskan. Kakak murobbiyah mendatanginya. Auri menceritakan masalahnya dengan Dinda. Dan sang kakak memberikan petuah-petuah yang membuat Auri merasakan apa yang dinamakan persahabatan.
Keesokan harinya, Auri berusaha menarik perhatian Dinda. Namun selalu saja gagal. Tapi Auri tidak akan menyerah. Auri akan berusaha agar Dinda mau menjadi temannya kembali. Berbagai cara ia lakukan, sampai yang konyol pun. Tapi, itu tidak serta merta membuat Dinda memaafkannya.
Suatu hari, Dinda mendapat kiriman dari Auri. Rangkaian lipatan burung-burung warna warni dari kertas  lipat yang berisikan sajak tentang persahabatan Dinda dan Auri  dari awal mereka berjumpa hingga hari ini Auri merindukan persahabatannya dengan Dinda. Lalu Auri memasukkan semua itu didalam sebuah kotak dengan pita berwarna merah, beserta selembar foto Auri dan Dinda. Dibelakang foto itu tertulis “Persahabatan yang indah seperti pelangi kehidupan. Auri-Dinda”. Dinda tidak tahan lagi untuk menangis. Setiap butiran bening yang jatuh dipipinya mewakili kerinduannya pula pada kisah-kisah indah bersama sahabatnya. Semua terungkap lewat sajak indah Auri, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang luka yang selama ini dipendamnya. Semuanya mengalir, beban pada relung hatipun ikut mengalir tanpa riak. Bahagia menyeruak didalam hati, akan berita bahagia hari ini. Tentang seorang sahabat yang telah kembali.
Pagi itu, Dinda dan Auri duduk berdua disebuah taman. Semilir angin mengibaskan ujung kerudung keduanya. Dinda berkata, “Dulu, aku pernah bilang. Aku menyukai matahari, Jika hujan turun.. Dan aku tidak melanjutkannya.” Auri bertanya, “Kenapa kamu tidak melanjutkannya?”. “Karena aku baru tahu kelanjutannya hari ini.” Auri tersenyum, “Apa itu”.
“Aku menyukai matahari, jika hujan turun aku akan menunggu degan senang hati. Hingga hujanpun reda, kemudian matahari kembali menyapa. Membiaskan sinarnya pada derai hujan yang tersisa dan pelangipun tercipta. Pelangi yang indah seperti yang kau katakan”
Setiap warna, mewakili setiap rasa.. Dan setiap rasa itu, indah bersamamu sahabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar