Sabtu, 13 April 2013

Ketika Penulis Jatuh Cinta




Cinta adalah keyakinan, seperti Ibrahim yang dibakar api, dan terus lanjutkan dzikir, hingga terkisahlah mukjizat itu; api yang tak membakar

Cinta adalah kepercayaan, seperti Hajar yang rela ditinggal di tengah gurun, cukuplah ia berucap, “Jika ini kehendak Allah, maka Ia tidak akan menyia-nyiakan kami”

Cinta adalah kepatuhan, seperti Ismail yang rela disembelih, lewati ujian keimanan yang begitu beratnya, maka termasuklah ia hamba yang bersabar

Cinta adalah kesepahaman, seperti Khadijah yang tak perlu bertanya panjang, cukup menyelimuti dan memberikan kehangatan, setelah wahyu pertama kali diturunkan. “Allah tidak akan menghinakanmu..

Cinta adalah pengharapan, layaknya Rasulullah yang tak rela penduduk Thaif diadzab dengan gunung yang menimpa, seraya berujar, “Justru aku berharap, kelak akan ada generasi dari sulbi mereka yang tidak akan menyekutukan Allah!

Cinta adalah kebahagiaan, seperti Aisyah dan Rasululullah yang berlomba lari, di suatu saat Aisyah yang menang, di kala yang lain Rasulullah mengalahkan.

Cinta adalah kerelaan, layaknya Salman yang memberikan mahar dan persiapan walimah, kepada Abu Dzar yang ternyata lebih dipilih oleh wanita yang ia pinang

Cinta adalah keteguhan, seperti Bilal yang bertahan dengan “Ahad!” meski cambuk dan dera menyiksa diatas tanah panas yang melelehkan.

Cinta adalah ketenangan, saat keduanya dalam gua, lalu Rasulullah berucap pada Abu Bakar, “Janganlah bersedih, sebab Allah bersama kita

Cinta adalah kebeningan, saat Rasulullah wafat, Abu Bakar yang paling dicintainya yang pertama kali tersadar, “Barangsiapa menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah wafat.” ucapnya, “Namun siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal!”

Cinta adalah kesadaran, seperti isak Umar saat melihat harta melimpah di masa kepemimpinannya, “Jika ini baik, mengapa tidak terjadi di zaman Rasulullah dan Abu Bakar?”

Cinta adalah penerimaan, seperti Nailah yang belia, menjadikan Utsman yang telah berusia senja sebagai pendampingnya, sebab “Masa mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah”

Cinta adalah pengorbanan, seperti Ali yang sempat mengira Fatimah akan dinikahkan dengan Abu Bakar, “Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku utamakan Fatimah atas cintaku.”

Cinta adalah penjagaan, seperti Fatimah yang menunggu saat yang tepat, dikala Ali telah halal baginya,“Dulu aku pernah cintai lelaki sebelum menikahimu.” ucapnya,  “Dialah kau.”

Cinta adalah karena Allah, saat kau berucap dengan mata berkaca, “Bahkan mungkin, aku lebih mencintai kalian diatas cinta pada saudara kandungku sendiri”

Cinta adalah kesucian, tidak dititipkan kecuali pada hati yang suci, dikokohkan dengan ikatan yang suci, telah tertakdir, tepat pada waktunya. Tidak pernah terlalu cepat, pun tidak akan datang terlambat. 

Ketika penulis jatuh cinta, maka ia tidak lagi butuh syair dan kata-kata indah. Sebab telah dapat ia buat sendiri dengan jemarinya. 

Saat penulis jatuh cinta, ia pastikan tertulis dengan fokus yang tepat; “Aku ingin jatuh cinta berkali-kali, terus seperti ini, dan tak akan pernah berubah. Padamu saja.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar